Kamis, 16 Desember 2010

0

Dosa lahir dan dosa batin

Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fisik (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluub). Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati.

Saudaraku,
Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fisik, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fisik itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang shalih. Bila kita secara fisik terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah swt. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang bisa membinasakan semua kebaikan lahir kita?

Ini bukan menyepelekan kemaksiatan fisik dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang.

Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab radhiallahu anhu, "tafaqqahuu qabla an tasuuduu" perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan paham ilmu dan hukum agama seperti yang dipahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafushalih generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafushalih dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktekkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami seluk beluk hukum suatu masalah.

Saudaraku,
Ibnu Mas’ud ra pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika dihadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan, "Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama. Kelak akan datang suatu zaman, banyak
khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama." Karena mengerti mendalam tentang masa
lah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak
untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam
menolak melanjutkan estafeta kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Karena catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu.

Saudaraku,
Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid ra yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang karena perintah khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha,
"Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam." Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum bisa mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara total seluruh amal kepada Allah, selama kita belum bisa menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita bisa menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain.

Saudaraku,
Semoga Allah swt mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita.

Apa yang dilakukan banyak salafushalih, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat surga dan neraka, mereka gemetar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pingsan.

Saudaraku,
Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
0

Bila akhirat menjauhi kita


Akhirat..... Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). 

Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya.
Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. 

Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?
Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat.

Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera.
Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat.

Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tutur kala kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, mcnjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF




0

RENUNGAN DIRI

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah,
dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…." 

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
0

R I S A U

 Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.
“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.
Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”
Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.
Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.
Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.
Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.
Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).
Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.
Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.
Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.
Maka seperti apakah risau kita hari ini?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
1

Untukmu Wahai kaum Adam..

Assalamualaikum..

Maaf kumohon darimu, duhai Adam...
seandainya bait bicara ini bisa menggores parah tangkai hatimu dan membenamkan luka yang dalam...
Telah lama aku mencari kekuatan untukku larungkan getaran di jiwa yang makin mencengkam, segalanya karena rindukan berkibarnya syiar islam dibumi yang kian gersang.

Adam, sukarnya untukku lafadzkan kecewa dihati ini. Bila saban hari ku terpaksa berhadapan dengan kaummu yang sekadar tertunduk malu sedang deretan dosa dan noda melingkari ruangan alam, keji tanpa alasan.
Kenapa Adam? Kau membisu. Sedangkan kekuatan padu ditanganmu. Sekadar membisu, masa terus berlalu.

Adam, tersangat pilu hatiku bila melihat kaummu menghapuskan hijab antara kita, pandanganmu kau tebarkan ke serata ruangan, tiada lagi halangan…
hawa jadi perhatian.
"Bukankah jelas dinyatakan kita punyai batasan tak bisa dirobohkan. Segalanya tuntutan dan kalianlah yang harus tegakkan dalam kedangkalan akal fikiran umat zaman ini!

Adam, bukan niatku untuk membelakangkanmu, malah kutahu kau lebih berkuasa daripadaku
yang cukup lemah dan kerdil ini. Tapi ku tak mampu, Adam…menyimpan lahar yang kian bergelegar ini. Dan jiwaku meronta sayu. Kekuatanku terbatas, Adam!

Suara hatiku tenggelam. Segalanya membeku sehingga peritnya kutahan dalam dakapan duka menanti terbangunnya kegemilangan islam…

Adam, Ku tak mampu lagi menahan tangis. Iba bila mengenangkan sikapmu, ego kau julang, kau biarkan ku merintih dalam sendu menahan pedih. Pernah dan sering kuluapkan. Kau harus bangkit dan cipta perubahan. Kau mampu, Adam!!! Karna bukan lemah yang terbenam dalam dirimu tapi kemauan yang tak kau asah!!! 

Sesekali aku bangga, Adam…
Kau memang insan gemilang, ilmumu tak terbilang tapi kemana hilangnya kewajibanmu yang harus kau jalankan untuk memimpinku ke jalan kebenaran?!

Adam, sekali lagi kumohon pengertianmu, bukan kebahagiaan dzahir yang ku harapkan. Bukan jua kebebasan pergaulan kita yang jadi impian. Hancurkanlah segalanya itu. Kubenar-benar mengharapkan kau bangkit membela kehormatan agama kita. Bentukkan kembali hati-hati yang mengagungkan kebesarannya, laksanakan perintahnya dan seterusnya, biar solehah mengharumi dunia…

Adam, bicara ini harus kuhentikan jua…Namun, kemaafan tetap ku ulur dan mengharapkan penerimaan. Walau ku tahu ada hati yang akan menyimpan dendam, ada jiwa yang bergetar menahan kemarahan, biarlah...aku ridha dan kupasti dengan ketulusan niatku tanpa ada karat mazmumah dan muslihat yang tersimpan…

Bangkitlah Adam!!! Teruskan bina kekuatan…
Bimbinglah kaumku yang merindukan kemantapan iman… 
Bukan sekadar impian…. 
Kebahagiaan dunia yang tak kesudahan… 
Kita bertemu DISANA ….NEGERI KEKAL ABADI.
Insyaallah… 
Sekian….

dari Hawa...

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Untukmu wahai kaum HAWA


Mentari senyum lebar tanda kekuasaan kembali bertakhta. Setelah sekian lama membenarkan sang purnama bersuka-ria memadu rindu dengan sang pungguk. Sang helang berterbangan di ufuk timur, gagah, berani, bebas... terbang tinggi tanpa dinding membataskan, tanpa rintang yang menghalang...

Hawa... Bukan kutewas dengan ribut angin alam yang kencang. Kuibaratkan diriku hilang gagah perkasa di awan. Namun andainya sebelah sayapku kuat tapi sebelah lagi tergeliat.... ah, belum lagi patah, ku tidak mampu membahas n ribut modernisasi dan globalisasi mengikut haluanku....

Hawa....
Andainya hilang ego lelaki, maka musnahlah dunia tanpa kepimpinan. karena ego mencipta karisma dan kepimpinan. Namun tatkala egoku menjadi egoisme, maka di situ aku perlukan coretan. Terbang di langit tanpa batasan, sering ku kebablasan ke angkasa larangan. Kuharapkan teguran dan kritikan serta pesan berpanjangan, agar kutetap terbang di awan, tapi tafakurku sejenak di pepohonan...

Hawa.....
Seandainya kuperlukan mata ketiga yang sentiasa mengintropeksi...
maka begitulah jua dirimu yang tak kurang alpanya. Dunia kini, tiada hiburan tanpa kaummu yang menghiburkan.
Modenisme kini, tiada hiasan tanpa susuk dirimu yang menggiurkan. Ah, memang kaumku mudah mempercayai pada mata. Tapi siapakah yang telah hilang perasaan malu sanggup menjadikan dirinya sebagai hidangan enak buat mata, tapi racun pada jiwa?? Seandainya benar kaummu pemalu, mengapa tidak dibalut tubuhnya dengan helaian sutera yang indah, yang telah diharamkan untukku mengenakannya? Seandainya malu itu lebih pada kaummu, mengapa tidak ramai kaumku yang kelihatan memakan pakaian menampakkan bentuk badan seperti yang dipakai oleh kaummu di khalayak banyak....?

Hawa......
Terkadang, tak kurang dikalanganmu yang amat tinggi malunya. Indah etikanya di khayalak. Sutera kausarung menghijab keindahanmu dari mata keranjang kaumku. Tatkala itu, kamu bangga dengan sifat itu. Namun di wajahmu terhijab, hatimu bertelanjang tanpa mahmudah... Kamu merendahkan orang lain, di hadapan orang lain. Kamu tidak akan puas seandainya perihal orang lain tidak kamu bicarakan.....
Ah, apakah mengumpat dan menfitnah orang satu santapan yang sedap? Bagaikan memakan daging saudara sendiri, namun sering dibayangi dengan bahasa indah, sekadar menjadi iktibar diri...
walhasill hati kecilmu tidak kan puas seandainya aib orang tidak dibicarakan.....
kalau tidak karena tubuh, karena lidah pun hancur masyarakatku...

Hawa.....
ku datang bukan untuk mencakar cengkraman kuku tajam di kaki...
bukan juga mematukkan paruh berbisa yang menyambar....
Tapi supaya direnungkan bersama. Bahwa antara kita perlu sentiasa perbaiki diri. Aku akur dengan nasihat dan peringatanmu, di kala itu akurlah dengan peringatanku padamu....

Hawa... karena kau adalah ibu yang mengandung dan melahirkan... karena dalam asuhanmu, aku dibesarkan... karena kau adalah teman hidup tempat emosiku berbicara karena kau adalah taman nafsuku yang bergelora karena kau adalah asset masyarakat yang mengundang ujian karena kau ibarat hiasan indah bagai intan berlian....

Adam ;)  
Wassalamualaikum

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Biarlah Orang Bicara Tentang Kita

Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Karena cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari prilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang bisa meninggalkan cerita-cerita baik pada keluarga. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat untuk orang lain.

Di akhirat kelak, tak ada sesuatu yang paling disesali penghuni surga kecuali penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia tanpa diisi amal saleh. Karena itu, ketika ada seorang saleh ditanya, "Kenapa engkau melelahkan jiwamu dalam beribadah?" Ia menjawab, "Aku ingin mengistirahatkan jiwaku." Istirahat yang dimaksud, adalah istirahat di dunia dengan jiwa yang tenang setelah beribadah. Juga istirahat di akhirat, dengan memasuki kehidupan yang begitu menentramkan dan menggembirakan.

Umur hidup itu, menurut Ibnul Jauzi rahimahullah, tak beda dengan tempat jual beli berbagai macam barang. Ada barang yang bagus dan juga yang jelek. Orang yang berakal, pasti akan membeli barang yang bermutu meski harganya mahal. Karena barang itu lebih awet dari barang jelek meski harganya murah. "Orang yang tahu kemuliaan alam semesta harus meraih sesuatu yang paling mulia yang ada di alam semesta ini. Dan sesuatu yang paling mahal nilainya di dunia ini adalah, mengenal Allah swt," kata lbnul Jauzi.

Seseorang yang mengenal Allah swt, berarti ia mengetahui ke- Maha Besaran-Nya. Berarti juga mengetahui kekerdilan dirinya, kelemahan dirinya, ketergantungan dirinya dengan Yang Maha Berkuasa. Pengenalan seperti ini yang bisa memunculkan kekuatan dan ketangguhan dalam mengarungi gelombang kehidupan. Tidak takut, tidak lemah, dan tidak tergantung kepada siapa pun, kecuali Allah dan selama berada di jalan Allah tidak senang, tidak gembira dan tidak bersukacita kecuali bersama Allah.

Lihatlah perkataan Masruq, seorang mufassir yang juga sahabat Said bin Jubair, yang pernah berujar, "Tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajahku di tanah (sujud). Aku tidak pemah bersedih karena sesuatu melebihi kesedihanku karena tidak bisa sujud kepada Allah." (SiyarA’lamin Nubala, IV/65).

Sujud adalah saat-saat seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya. Sujud, juga tanda ketundukan dan kerendahan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sujud, juga merupakan kepasrahan, ketaatan, kerinduan dan kecintaan seorang hamba pada Tuhannya. Kondisi-kondisi seperti itulah yang sangat didambakan Masruq hingga tak ada lagi kesedihan baginya, kecuali ia tidak bisa melakukan sujud di hadapan Allah swt.

Itulah gambaran keyakinan yang tertanam kuat dalam jiwa orang-orang saleh, para pejuang da’wah Islam. Ketundukan, kedekatan dan keyakinannya pada Allah, menjadikan tekad mereka seperti baja dan keberanian yang tak kenal takut. Basahnya lidah mereka oleh dzikir, larutnya hati mereka dalam kecintaan pada Allah, tunduknya jiwa mereka pada keagungan Allah, memunculkan kepribadian yang kuat dan tangguh.

Setiap orang, pada mulanya, dinilai tinggi rendahnya berdasarkan intensitas dan kualitas serta konsistensi (istiqomah) dalam beribadah kepada Allah. Bukan dinilai dari kekayaan materi/harta yang dimilikinya ataupun oleh orang tua nya. Bukan pula dinilai dari paras, ketampanan dan keindahan fisiknya. Karena, semua itu hanya fatamorgana yang hanya sesaat bisa dinikmati. Pribadi yang kuat dan tangguh selalu muncul dari habitat kehidupan yang penuh tantangan, bukan dari keserbamudahan yang memanjakan dan melemahkan jiwa.

Lihatlah, Bagaimana penuturan salah seorang anak dari Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah, tokoh pejuang Palestina abad ini yang beberapa waktu lalu gugur oleh rudal Israel. "Ayah tidak mencintai dunia. Ia lebih mencintai rumah akhirat. Banyak orang yang menyarankan agar ayah mendiami rumah sebagaimana layaknya seorang pemimpin. Pemerintah otorita Palestina juga pernah menawarkan sebuah rumah yang besar di perkampungan Ghaza. Tapi ayah menolak tawaran itu. Ayahku lebih menginginkan akhirat sehingga ia tidak begitu memperhatikan perabotan duniawi. Luas rumahnya kecil, hanya tiga ruang. Tanpa keramik di lantai, dan ruang dapur yang sudah rusak. Bila musim dingin tiba, kondisi rumah sangat dingin. Sebaliknya bila musim panas datang, ruangan rumah terasa panas sekali. Ayah tidak pernah berpikir untuk memperbaiki rumahnya. Sekali lagi, ia benar-benar sibuk mempersiapkan rumahnya di akhirat." Itulah rahasia ketegaran Syaikh Ahmad Yasin.
Rumah akhirat. 

Pernahkah terlintas dalam hati kita tentang rumah itu? Pernahkah kita berencana dan bermimpi memiliki rumah yang indah, di akhirat, bukan di dunia? Bagaimana kita membayangkan kesan akhir yang kita tinggalkan pada keluarga, setelah kita berpisah dengan mereka di dunia? Kebanggaankah atau kebalikannya? Apakah mereka juga akan berkata, kita lebih mencintai dan menginginkan rumah akhirat?

Syaikh Ahmad Yasin memberi pelajaran besar bagi kita tentang keyakinannya pada keputusan Allah swt. Bahwa apa yang diputuskan oleh Allah tetap akan terjadi, apa pun usaha yang kita lakukan. Syaikh Ahmad Yasin juga memberi pendidikan langsung kepada siapa pun, tentang batas apa yang harus diberikan seseorang yang menginginkan mati di jalan Allah.

Sekitar lima menit sebelum rudal Israel ditembakkan ke arahnya, Syaikh yang duduk di kursi roda itu, seorang anaknya, Abdul Ghani sempat mengingatkannya untuk berhati-hati dengan mengatakan, "Ayah, ada pesawat pembunuh di atas." Apa jawaban Syaikh Ahmad Yasin ketika itu. "Ya, saya di sini sedang menanti pesawat pembunuh itu juga." Benar-benar tak ada keraguan dan ketakutan sedikit pun.

Kita di sini, sedang menanti detik demi detik kematian yang pasti menjemput. Menunggu saat kita menarik nafas terakhir, dan menghembuskannya lagi untuk yang terakhir. Saat udara dingin merayap dari ujung jemari kaki hingga bagian kepala. Saat mata terkatup dan tak bisa terbuka lagi. Ketika badan terbujur dan tak bisa bergerak. Ketika kita masuk dalam keranda, dan diangkat oleh anggota keluarga dan teman-teman kita.

Setelah itu, Biarlah orang-orang berbicara tentang kita…

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Permohonan

Ya Allah...
Yang Maha Pengampun..
begiu banyak dosa yang telah kulakukan
sering kali aku melupakan-Mu
perintah-Mu kulalaikan
larangan-Mu kulakukan
aku memohon ampun kepada-Mu, ya Allah
karena hanya Engkaulah yang dapat mengampuniku

Ya Allah...
Yang Maha Penyayang
aku memohan pada-Mu
bukakan pintu hatiku agar selalu mengingat-Mu
dimana saja dan kapan saja

Ya Allah...
Yang Maha Pembalas
aku tak mungkin mampu menahan siksa-Mu
dan aku tak pantas mendapat nikmat terbesar-Mu
dalam hal ini aku hanya dapat pasrah dan menyerahkan kepada-Mu
sungguh, aku malu pada-Mu
sesungguhnya hanya kepada-Mu-lah aku beribadah
dan hanya pada-Mu jua aku memohon

Salah satu penyesalanku adalah ketika mengecewakan kasih sayang yang tak pernah berakhir, membuat marah mereka, membuat mereka susah, aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan yang telah kulakukan pada mereka.

Kasih sayang yang tak pernah berakhir
sembilan bulan aku dibawa-bawa olehnya
didalam perut tempatku selama itutak megenal lelah
tak tahu capekdia bersabarmengharapkan buah hati yang manis
dan tahu dirimengadu nasib dialam
panas tak dirasakan, dingin tak dihiraukan
dengan penuh pengharapan mengayunkan cangkul
memporakporandakan tanah dan meratakannya
ditaburkan benih kehidupanuntuk membiayaiku

Oh Ibu, maafkan anakmu yang tak tahu diri ini
yang tak mampu merasakan rasa sakitmu waktu melahirkan
aku sadar, jauh sekali aku membahagiakanmu

Oh Ayah, maafkan anakmu yang tak tahu berbalas budi ini
yang tak bisa merasakan kelelahan ketika engkau berjuang
aku sadar, jauh sekali aku berbakti padamu

oh kasih sayang yang tak pernah berakhir,doakan anakmu ini agar dapat membahagiakan dan berbakti dengan baik
kepada ibu dan ayah
setidaknya dapat selalu mendoakan ayah dan ibu.


Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF


0

PAHAMI TAKDIR ILLAHI

Kenapa kita pernah merasakan patah hati?
Kenapa kita pernah merasakan sedih?
Kenapa kita pernah merasakan jenuh dalam menghadapi hidup ini?
Dan kenapa pula kita pernah merasakan hal-hal yang kurang berkenan dihati?

Jawabannya adalah karena kita tidak memahami takdir Illahi secara hayati.
Sebuah takdir yang memang sudah tertulis untuk kita masing-masing. Setiap manusia sudah ada jalan hidupnya masing-masing akan seperti apa. Allah SWT telah menentukan jalan yang harus kita lalui dalam kehidupan kita ini. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjalankannya, tapi aturan ada ditangan-Nya.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita memang sudah diputuskan oleh Allah akan seperti itu. Maka tak perlu disesali, tak perlu ditangisi dan tak perlu diratapi. Karena bila itu terjadi maka hanya akan menambah beban dihati. Sesuatu hal yang buruk yang menimpa kita belum tentu itu buruk dihadapan Allah. Allah memberikan musibah itu mungkin agar kita mengambil hikmah dari kejadian tersebut, Meskipun terkadang kita merasa kesal, bete, sedih, dll. Tapi sesudah itu pasti ada kebaikan. Hikmah yang bisa kita ambil antaralain dapat membuat kita lebih waspada dalam mengarungi hidup ini., membuat kita berpikir untuk tidak melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya, membuat kita lebih tegar dan berpikir lebih dewasa serta membuat kita lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah yang akan menimpa kita selanjutnya. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah kita harus tetap mendekatkan diri kita kepada Allah Yang Maha Esa.
Apabila kita telah memahami setiap yang terjadi merupakan sebuah takdir Ilahi maka hidup kita akan lebih tenang, tentram dan nyaman serta menyenangkan. Karena kita yakin setelah kejadian itu pasti akan ada hasil yang terbaik dan akan jauh lebih indah dari apa yang telah kita bayangkan. Jadi untuk apa diratapi.

Ingatlah, tak ada sesuatu hal yang sia-sia yang Allah berikan untuk kita. Allah tak akan menyia-nyiakan apa yang telah kita lakukan dalam setiap celah kehidupan ini. Apa yang telah kita lakukan pasti akan dilihat oleh-Nya. Tak mungkin Allah akan mencampakkan kita begitu saja.
Untuk menjalani hidup ini yang kita perlukan adalah kesabaran. Dengan sabar kita tidak akan terbuai oleh emosi keji. Dan kesabaran akan membuahkan keberhasilan.

Setelah kita memahami takdir Ilahi yang kita rasakan adalah ketenangan hati. Menjalani hari tak akan mungkin ada rasa gundah hati. Hati jadi lebih bersih, jiwa jadi lebih terkondisi dengan baik. Ini bukan sekedar kata-kata tapi bagaimana cara kita untuk mau mencobanya sedikit demi sedikit dalam keseharian kita. So, marilah kita pahami takdir Ilahi dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi dalam setiap kehidupan kita ini. Tanamlah keyakinan itu dalam diri kita maka hidup kita akan jauh lebih berarti. Ayo, bangkitlah dari keterpurukan wahai Saudaraku!!!!

Hanya ini yang bisa aku katakan karena seperti itulah yang aku rasakan. Hidup tak seindah khayalan, namun dapat menjadi lebih indah apabila kita mau menghadapinya dengan penuh ketangguhan. Mohon maaf apabila ada kekurangan, kata yang salah itu datangnya dari saya dan kata yang benar itu datangnya dari Allah SWT.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Kulihat dan bercermin, ternyata !

Lemah …! Itulah yang selalu terlontar dari setiap sudut angin, ntah sudut selatan, utara, timur maupun barat. Aku tersenyum menerima julukan itu. Begitu naifnya mereka mengganggapku seperti itu. Padahal diamku adalah kekuatanku yang terkuat.

Dalam diam dari kebenaran, apakah itu lemah ?
Bagiku sebuah kekuatan besar bila diam dalam kebenaran, karena akan menutup segala efek dari fitnah.

Disaat ujian menimpa begitu dahsyat, mungkin ujian yang terlalu berat yang sangat berat, yang teralami seorang wanita, itulah yang kurasakan. Karena setiap insan siapapun itu tentunya bila ujian melanda diri akan  merasa bahwa dirinyalah yang paling menderita dan teraniaya hatinya.
Disaat terpuruk, aku coba melihat sekitar ku, kiri kanan dan atas bawah (sekitarku), Masyaallah masih begitu banyak yang lebih menderita dan teraniaya dari segala permasalahan dan ujian lahir batinnya, kembali pada diriku, ternyata tiada sedikitpun rasa lara dibanding dari mereka.

Aku malu sekali bila tak bersyukur, melihat sebelah kiriku, ada wanita yang begitu rapuh dari penderitaannya lahir batin dari seorang suami yang kejam lahir batin. Tanpa menafkahi lahir batin. Wanita itu hanya mampu diam dan bersabar, dia bukan lemah tapi karena beriman.

Kulihat sebelah kanan ( sekitarku )  seorang wanita dengan penyakit kanker yang menyerangnya, tanpa memilki seorangpun keluarga, anak dan suami, tapi wanita itu tetap sabar dan beriman.

Kulihat dari bawah (sekitarku) seorang anak yang tak beribu dan bapak, harus menghidupi dirinya sendiri dengan banting tulang , kulihat tak pernah ada keluhan dari bibirnya, subhanallah sekecil itu begitu ikhlas dia menerima cobaan yang begitu berat.

Dan akupun mencoba melihat keatas ( sekitarku ),...ternyata  sama ! masih begitu banyak orang-orang yang lebih menderita dan teraniaya, yang tak terhitung oleh jari.

Setelah kulihat dan bercermin ( sekitarku ) ternyata rasa syukur dan sabarku tak sebanding mereka.

Ya Rabb, ampun seribu ampun bila aku lalai dalam bersyukur, kusadari segala sesuatu yang menimpa diri tentunya kekurangan yang ada pada diriku. Dengan kumenyadari, kesabaran menghampiri, ternyata kesabaran ada pada kesadaran diri. Akhirnya kesadaran akan diri kujadikan senjata ampuh untuk menjadi sabar. Ternyata tanpa kesadaran,  sabar tak akan pernah datang pada diri.

Innallahama’ashshoobiriin, Allah beserta orang-orang yang sabar. Jadi untuk apa kita ingkar dengan ayat yang begitu bijak dari-NYA. Besar maupun kecil ujian dan cobaan yang menimpa, disitulah Allah hadir untuk kita, rangkulan dari kasih sayang-NYA jangan kita lepas dengan ketidak sabaran dari segala ujian-NYA, rangkulah kembali ujian dan cobaan-NYA dengan kasih sayang kita dari rasa Syukur dan sabar.
Insyaallah senantiasa Allah akan menganugerah hati yang seindah kilau mutiara, sebuah bijak, lapang dan seluas samudera, menurut istilah Ja
Twa kita akan selalu  legewo dan nrimo 

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

* Hanya sebuah nasehat untuk diriku sendiri, agar hati tetap teguh dengan keimanan kepada-NYA. 

Please put your comment

Kamis, 16 Desember 2010

Dosa lahir dan dosa batin

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.35 0 komentar
Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fisik (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluub). Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati.

Saudaraku,
Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fisik, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fisik itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang shalih. Bila kita secara fisik terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah swt. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang bisa membinasakan semua kebaikan lahir kita?

Ini bukan menyepelekan kemaksiatan fisik dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang.

Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab radhiallahu anhu, "tafaqqahuu qabla an tasuuduu" perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan paham ilmu dan hukum agama seperti yang dipahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafushalih generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafushalih dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktekkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami seluk beluk hukum suatu masalah.

Saudaraku,
Ibnu Mas’ud ra pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika dihadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan, "Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama. Kelak akan datang suatu zaman, banyak
khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama." Karena mengerti mendalam tentang masa
lah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak
untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam
menolak melanjutkan estafeta kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Karena catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu.

Saudaraku,
Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid ra yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang karena perintah khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha,
"Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam." Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum bisa mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara total seluruh amal kepada Allah, selama kita belum bisa menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita bisa menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain.

Saudaraku,
Semoga Allah swt mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita.

Apa yang dilakukan banyak salafushalih, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat surga dan neraka, mereka gemetar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pingsan.

Saudaraku,
Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Bila akhirat menjauhi kita

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.30 0 komentar

Akhirat..... Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). 

Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya.
Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. 

Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?
Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat.

Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera.
Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat.

Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tutur kala kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, mcnjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF




RENUNGAN DIRI

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.24 0 komentar
Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah,
dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…." 

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

R I S A U

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.19 0 komentar
 Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.
“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.
Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”
Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.
Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.
Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.
Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.
Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).
Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.
Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.
Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.
Maka seperti apakah risau kita hari ini?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Untukmu Wahai kaum Adam..

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.10 1 komentar
Assalamualaikum..

Maaf kumohon darimu, duhai Adam...
seandainya bait bicara ini bisa menggores parah tangkai hatimu dan membenamkan luka yang dalam...
Telah lama aku mencari kekuatan untukku larungkan getaran di jiwa yang makin mencengkam, segalanya karena rindukan berkibarnya syiar islam dibumi yang kian gersang.

Adam, sukarnya untukku lafadzkan kecewa dihati ini. Bila saban hari ku terpaksa berhadapan dengan kaummu yang sekadar tertunduk malu sedang deretan dosa dan noda melingkari ruangan alam, keji tanpa alasan.
Kenapa Adam? Kau membisu. Sedangkan kekuatan padu ditanganmu. Sekadar membisu, masa terus berlalu.

Adam, tersangat pilu hatiku bila melihat kaummu menghapuskan hijab antara kita, pandanganmu kau tebarkan ke serata ruangan, tiada lagi halangan…
hawa jadi perhatian.
"Bukankah jelas dinyatakan kita punyai batasan tak bisa dirobohkan. Segalanya tuntutan dan kalianlah yang harus tegakkan dalam kedangkalan akal fikiran umat zaman ini!

Adam, bukan niatku untuk membelakangkanmu, malah kutahu kau lebih berkuasa daripadaku
yang cukup lemah dan kerdil ini. Tapi ku tak mampu, Adam…menyimpan lahar yang kian bergelegar ini. Dan jiwaku meronta sayu. Kekuatanku terbatas, Adam!

Suara hatiku tenggelam. Segalanya membeku sehingga peritnya kutahan dalam dakapan duka menanti terbangunnya kegemilangan islam…

Adam, Ku tak mampu lagi menahan tangis. Iba bila mengenangkan sikapmu, ego kau julang, kau biarkan ku merintih dalam sendu menahan pedih. Pernah dan sering kuluapkan. Kau harus bangkit dan cipta perubahan. Kau mampu, Adam!!! Karna bukan lemah yang terbenam dalam dirimu tapi kemauan yang tak kau asah!!! 

Sesekali aku bangga, Adam…
Kau memang insan gemilang, ilmumu tak terbilang tapi kemana hilangnya kewajibanmu yang harus kau jalankan untuk memimpinku ke jalan kebenaran?!

Adam, sekali lagi kumohon pengertianmu, bukan kebahagiaan dzahir yang ku harapkan. Bukan jua kebebasan pergaulan kita yang jadi impian. Hancurkanlah segalanya itu. Kubenar-benar mengharapkan kau bangkit membela kehormatan agama kita. Bentukkan kembali hati-hati yang mengagungkan kebesarannya, laksanakan perintahnya dan seterusnya, biar solehah mengharumi dunia…

Adam, bicara ini harus kuhentikan jua…Namun, kemaafan tetap ku ulur dan mengharapkan penerimaan. Walau ku tahu ada hati yang akan menyimpan dendam, ada jiwa yang bergetar menahan kemarahan, biarlah...aku ridha dan kupasti dengan ketulusan niatku tanpa ada karat mazmumah dan muslihat yang tersimpan…

Bangkitlah Adam!!! Teruskan bina kekuatan…
Bimbinglah kaumku yang merindukan kemantapan iman… 
Bukan sekadar impian…. 
Kebahagiaan dunia yang tak kesudahan… 
Kita bertemu DISANA ….NEGERI KEKAL ABADI.
Insyaallah… 
Sekian….

dari Hawa...

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Untukmu wahai kaum HAWA

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.04 0 komentar

Mentari senyum lebar tanda kekuasaan kembali bertakhta. Setelah sekian lama membenarkan sang purnama bersuka-ria memadu rindu dengan sang pungguk. Sang helang berterbangan di ufuk timur, gagah, berani, bebas... terbang tinggi tanpa dinding membataskan, tanpa rintang yang menghalang...

Hawa... Bukan kutewas dengan ribut angin alam yang kencang. Kuibaratkan diriku hilang gagah perkasa di awan. Namun andainya sebelah sayapku kuat tapi sebelah lagi tergeliat.... ah, belum lagi patah, ku tidak mampu membahas n ribut modernisasi dan globalisasi mengikut haluanku....

Hawa....
Andainya hilang ego lelaki, maka musnahlah dunia tanpa kepimpinan. karena ego mencipta karisma dan kepimpinan. Namun tatkala egoku menjadi egoisme, maka di situ aku perlukan coretan. Terbang di langit tanpa batasan, sering ku kebablasan ke angkasa larangan. Kuharapkan teguran dan kritikan serta pesan berpanjangan, agar kutetap terbang di awan, tapi tafakurku sejenak di pepohonan...

Hawa.....
Seandainya kuperlukan mata ketiga yang sentiasa mengintropeksi...
maka begitulah jua dirimu yang tak kurang alpanya. Dunia kini, tiada hiburan tanpa kaummu yang menghiburkan.
Modenisme kini, tiada hiasan tanpa susuk dirimu yang menggiurkan. Ah, memang kaumku mudah mempercayai pada mata. Tapi siapakah yang telah hilang perasaan malu sanggup menjadikan dirinya sebagai hidangan enak buat mata, tapi racun pada jiwa?? Seandainya benar kaummu pemalu, mengapa tidak dibalut tubuhnya dengan helaian sutera yang indah, yang telah diharamkan untukku mengenakannya? Seandainya malu itu lebih pada kaummu, mengapa tidak ramai kaumku yang kelihatan memakan pakaian menampakkan bentuk badan seperti yang dipakai oleh kaummu di khalayak banyak....?

Hawa......
Terkadang, tak kurang dikalanganmu yang amat tinggi malunya. Indah etikanya di khayalak. Sutera kausarung menghijab keindahanmu dari mata keranjang kaumku. Tatkala itu, kamu bangga dengan sifat itu. Namun di wajahmu terhijab, hatimu bertelanjang tanpa mahmudah... Kamu merendahkan orang lain, di hadapan orang lain. Kamu tidak akan puas seandainya perihal orang lain tidak kamu bicarakan.....
Ah, apakah mengumpat dan menfitnah orang satu santapan yang sedap? Bagaikan memakan daging saudara sendiri, namun sering dibayangi dengan bahasa indah, sekadar menjadi iktibar diri...
walhasill hati kecilmu tidak kan puas seandainya aib orang tidak dibicarakan.....
kalau tidak karena tubuh, karena lidah pun hancur masyarakatku...

Hawa.....
ku datang bukan untuk mencakar cengkraman kuku tajam di kaki...
bukan juga mematukkan paruh berbisa yang menyambar....
Tapi supaya direnungkan bersama. Bahwa antara kita perlu sentiasa perbaiki diri. Aku akur dengan nasihat dan peringatanmu, di kala itu akurlah dengan peringatanku padamu....

Hawa... karena kau adalah ibu yang mengandung dan melahirkan... karena dalam asuhanmu, aku dibesarkan... karena kau adalah teman hidup tempat emosiku berbicara karena kau adalah taman nafsuku yang bergelora karena kau adalah asset masyarakat yang mengundang ujian karena kau ibarat hiasan indah bagai intan berlian....

Adam ;)  
Wassalamualaikum

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Biarlah Orang Bicara Tentang Kita

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 08.53 0 komentar
Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Karena cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari prilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang bisa meninggalkan cerita-cerita baik pada keluarga. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat untuk orang lain.

Di akhirat kelak, tak ada sesuatu yang paling disesali penghuni surga kecuali penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia tanpa diisi amal saleh. Karena itu, ketika ada seorang saleh ditanya, "Kenapa engkau melelahkan jiwamu dalam beribadah?" Ia menjawab, "Aku ingin mengistirahatkan jiwaku." Istirahat yang dimaksud, adalah istirahat di dunia dengan jiwa yang tenang setelah beribadah. Juga istirahat di akhirat, dengan memasuki kehidupan yang begitu menentramkan dan menggembirakan.

Umur hidup itu, menurut Ibnul Jauzi rahimahullah, tak beda dengan tempat jual beli berbagai macam barang. Ada barang yang bagus dan juga yang jelek. Orang yang berakal, pasti akan membeli barang yang bermutu meski harganya mahal. Karena barang itu lebih awet dari barang jelek meski harganya murah. "Orang yang tahu kemuliaan alam semesta harus meraih sesuatu yang paling mulia yang ada di alam semesta ini. Dan sesuatu yang paling mahal nilainya di dunia ini adalah, mengenal Allah swt," kata lbnul Jauzi.

Seseorang yang mengenal Allah swt, berarti ia mengetahui ke- Maha Besaran-Nya. Berarti juga mengetahui kekerdilan dirinya, kelemahan dirinya, ketergantungan dirinya dengan Yang Maha Berkuasa. Pengenalan seperti ini yang bisa memunculkan kekuatan dan ketangguhan dalam mengarungi gelombang kehidupan. Tidak takut, tidak lemah, dan tidak tergantung kepada siapa pun, kecuali Allah dan selama berada di jalan Allah tidak senang, tidak gembira dan tidak bersukacita kecuali bersama Allah.

Lihatlah perkataan Masruq, seorang mufassir yang juga sahabat Said bin Jubair, yang pernah berujar, "Tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajahku di tanah (sujud). Aku tidak pemah bersedih karena sesuatu melebihi kesedihanku karena tidak bisa sujud kepada Allah." (SiyarA’lamin Nubala, IV/65).

Sujud adalah saat-saat seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya. Sujud, juga tanda ketundukan dan kerendahan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sujud, juga merupakan kepasrahan, ketaatan, kerinduan dan kecintaan seorang hamba pada Tuhannya. Kondisi-kondisi seperti itulah yang sangat didambakan Masruq hingga tak ada lagi kesedihan baginya, kecuali ia tidak bisa melakukan sujud di hadapan Allah swt.

Itulah gambaran keyakinan yang tertanam kuat dalam jiwa orang-orang saleh, para pejuang da’wah Islam. Ketundukan, kedekatan dan keyakinannya pada Allah, menjadikan tekad mereka seperti baja dan keberanian yang tak kenal takut. Basahnya lidah mereka oleh dzikir, larutnya hati mereka dalam kecintaan pada Allah, tunduknya jiwa mereka pada keagungan Allah, memunculkan kepribadian yang kuat dan tangguh.

Setiap orang, pada mulanya, dinilai tinggi rendahnya berdasarkan intensitas dan kualitas serta konsistensi (istiqomah) dalam beribadah kepada Allah. Bukan dinilai dari kekayaan materi/harta yang dimilikinya ataupun oleh orang tua nya. Bukan pula dinilai dari paras, ketampanan dan keindahan fisiknya. Karena, semua itu hanya fatamorgana yang hanya sesaat bisa dinikmati. Pribadi yang kuat dan tangguh selalu muncul dari habitat kehidupan yang penuh tantangan, bukan dari keserbamudahan yang memanjakan dan melemahkan jiwa.

Lihatlah, Bagaimana penuturan salah seorang anak dari Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah, tokoh pejuang Palestina abad ini yang beberapa waktu lalu gugur oleh rudal Israel. "Ayah tidak mencintai dunia. Ia lebih mencintai rumah akhirat. Banyak orang yang menyarankan agar ayah mendiami rumah sebagaimana layaknya seorang pemimpin. Pemerintah otorita Palestina juga pernah menawarkan sebuah rumah yang besar di perkampungan Ghaza. Tapi ayah menolak tawaran itu. Ayahku lebih menginginkan akhirat sehingga ia tidak begitu memperhatikan perabotan duniawi. Luas rumahnya kecil, hanya tiga ruang. Tanpa keramik di lantai, dan ruang dapur yang sudah rusak. Bila musim dingin tiba, kondisi rumah sangat dingin. Sebaliknya bila musim panas datang, ruangan rumah terasa panas sekali. Ayah tidak pernah berpikir untuk memperbaiki rumahnya. Sekali lagi, ia benar-benar sibuk mempersiapkan rumahnya di akhirat." Itulah rahasia ketegaran Syaikh Ahmad Yasin.
Rumah akhirat. 

Pernahkah terlintas dalam hati kita tentang rumah itu? Pernahkah kita berencana dan bermimpi memiliki rumah yang indah, di akhirat, bukan di dunia? Bagaimana kita membayangkan kesan akhir yang kita tinggalkan pada keluarga, setelah kita berpisah dengan mereka di dunia? Kebanggaankah atau kebalikannya? Apakah mereka juga akan berkata, kita lebih mencintai dan menginginkan rumah akhirat?

Syaikh Ahmad Yasin memberi pelajaran besar bagi kita tentang keyakinannya pada keputusan Allah swt. Bahwa apa yang diputuskan oleh Allah tetap akan terjadi, apa pun usaha yang kita lakukan. Syaikh Ahmad Yasin juga memberi pendidikan langsung kepada siapa pun, tentang batas apa yang harus diberikan seseorang yang menginginkan mati di jalan Allah.

Sekitar lima menit sebelum rudal Israel ditembakkan ke arahnya, Syaikh yang duduk di kursi roda itu, seorang anaknya, Abdul Ghani sempat mengingatkannya untuk berhati-hati dengan mengatakan, "Ayah, ada pesawat pembunuh di atas." Apa jawaban Syaikh Ahmad Yasin ketika itu. "Ya, saya di sini sedang menanti pesawat pembunuh itu juga." Benar-benar tak ada keraguan dan ketakutan sedikit pun.

Kita di sini, sedang menanti detik demi detik kematian yang pasti menjemput. Menunggu saat kita menarik nafas terakhir, dan menghembuskannya lagi untuk yang terakhir. Saat udara dingin merayap dari ujung jemari kaki hingga bagian kepala. Saat mata terkatup dan tak bisa terbuka lagi. Ketika badan terbujur dan tak bisa bergerak. Ketika kita masuk dalam keranda, dan diangkat oleh anggota keluarga dan teman-teman kita.

Setelah itu, Biarlah orang-orang berbicara tentang kita…

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Permohonan

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 08.48 0 komentar
Ya Allah...
Yang Maha Pengampun..
begiu banyak dosa yang telah kulakukan
sering kali aku melupakan-Mu
perintah-Mu kulalaikan
larangan-Mu kulakukan
aku memohon ampun kepada-Mu, ya Allah
karena hanya Engkaulah yang dapat mengampuniku

Ya Allah...
Yang Maha Penyayang
aku memohan pada-Mu
bukakan pintu hatiku agar selalu mengingat-Mu
dimana saja dan kapan saja

Ya Allah...
Yang Maha Pembalas
aku tak mungkin mampu menahan siksa-Mu
dan aku tak pantas mendapat nikmat terbesar-Mu
dalam hal ini aku hanya dapat pasrah dan menyerahkan kepada-Mu
sungguh, aku malu pada-Mu
sesungguhnya hanya kepada-Mu-lah aku beribadah
dan hanya pada-Mu jua aku memohon

Salah satu penyesalanku adalah ketika mengecewakan kasih sayang yang tak pernah berakhir, membuat marah mereka, membuat mereka susah, aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan yang telah kulakukan pada mereka.

Kasih sayang yang tak pernah berakhir
sembilan bulan aku dibawa-bawa olehnya
didalam perut tempatku selama itutak megenal lelah
tak tahu capekdia bersabarmengharapkan buah hati yang manis
dan tahu dirimengadu nasib dialam
panas tak dirasakan, dingin tak dihiraukan
dengan penuh pengharapan mengayunkan cangkul
memporakporandakan tanah dan meratakannya
ditaburkan benih kehidupanuntuk membiayaiku

Oh Ibu, maafkan anakmu yang tak tahu diri ini
yang tak mampu merasakan rasa sakitmu waktu melahirkan
aku sadar, jauh sekali aku membahagiakanmu

Oh Ayah, maafkan anakmu yang tak tahu berbalas budi ini
yang tak bisa merasakan kelelahan ketika engkau berjuang
aku sadar, jauh sekali aku berbakti padamu

oh kasih sayang yang tak pernah berakhir,doakan anakmu ini agar dapat membahagiakan dan berbakti dengan baik
kepada ibu dan ayah
setidaknya dapat selalu mendoakan ayah dan ibu.


Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF


PAHAMI TAKDIR ILLAHI

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 08.38 0 komentar
Kenapa kita pernah merasakan patah hati?
Kenapa kita pernah merasakan sedih?
Kenapa kita pernah merasakan jenuh dalam menghadapi hidup ini?
Dan kenapa pula kita pernah merasakan hal-hal yang kurang berkenan dihati?

Jawabannya adalah karena kita tidak memahami takdir Illahi secara hayati.
Sebuah takdir yang memang sudah tertulis untuk kita masing-masing. Setiap manusia sudah ada jalan hidupnya masing-masing akan seperti apa. Allah SWT telah menentukan jalan yang harus kita lalui dalam kehidupan kita ini. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjalankannya, tapi aturan ada ditangan-Nya.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita memang sudah diputuskan oleh Allah akan seperti itu. Maka tak perlu disesali, tak perlu ditangisi dan tak perlu diratapi. Karena bila itu terjadi maka hanya akan menambah beban dihati. Sesuatu hal yang buruk yang menimpa kita belum tentu itu buruk dihadapan Allah. Allah memberikan musibah itu mungkin agar kita mengambil hikmah dari kejadian tersebut, Meskipun terkadang kita merasa kesal, bete, sedih, dll. Tapi sesudah itu pasti ada kebaikan. Hikmah yang bisa kita ambil antaralain dapat membuat kita lebih waspada dalam mengarungi hidup ini., membuat kita berpikir untuk tidak melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya, membuat kita lebih tegar dan berpikir lebih dewasa serta membuat kita lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah yang akan menimpa kita selanjutnya. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah kita harus tetap mendekatkan diri kita kepada Allah Yang Maha Esa.
Apabila kita telah memahami setiap yang terjadi merupakan sebuah takdir Ilahi maka hidup kita akan lebih tenang, tentram dan nyaman serta menyenangkan. Karena kita yakin setelah kejadian itu pasti akan ada hasil yang terbaik dan akan jauh lebih indah dari apa yang telah kita bayangkan. Jadi untuk apa diratapi.

Ingatlah, tak ada sesuatu hal yang sia-sia yang Allah berikan untuk kita. Allah tak akan menyia-nyiakan apa yang telah kita lakukan dalam setiap celah kehidupan ini. Apa yang telah kita lakukan pasti akan dilihat oleh-Nya. Tak mungkin Allah akan mencampakkan kita begitu saja.
Untuk menjalani hidup ini yang kita perlukan adalah kesabaran. Dengan sabar kita tidak akan terbuai oleh emosi keji. Dan kesabaran akan membuahkan keberhasilan.

Setelah kita memahami takdir Ilahi yang kita rasakan adalah ketenangan hati. Menjalani hari tak akan mungkin ada rasa gundah hati. Hati jadi lebih bersih, jiwa jadi lebih terkondisi dengan baik. Ini bukan sekedar kata-kata tapi bagaimana cara kita untuk mau mencobanya sedikit demi sedikit dalam keseharian kita. So, marilah kita pahami takdir Ilahi dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi dalam setiap kehidupan kita ini. Tanamlah keyakinan itu dalam diri kita maka hidup kita akan jauh lebih berarti. Ayo, bangkitlah dari keterpurukan wahai Saudaraku!!!!

Hanya ini yang bisa aku katakan karena seperti itulah yang aku rasakan. Hidup tak seindah khayalan, namun dapat menjadi lebih indah apabila kita mau menghadapinya dengan penuh ketangguhan. Mohon maaf apabila ada kekurangan, kata yang salah itu datangnya dari saya dan kata yang benar itu datangnya dari Allah SWT.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Kulihat dan bercermin, ternyata !

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 08.30 0 komentar
Lemah …! Itulah yang selalu terlontar dari setiap sudut angin, ntah sudut selatan, utara, timur maupun barat. Aku tersenyum menerima julukan itu. Begitu naifnya mereka mengganggapku seperti itu. Padahal diamku adalah kekuatanku yang terkuat.

Dalam diam dari kebenaran, apakah itu lemah ?
Bagiku sebuah kekuatan besar bila diam dalam kebenaran, karena akan menutup segala efek dari fitnah.

Disaat ujian menimpa begitu dahsyat, mungkin ujian yang terlalu berat yang sangat berat, yang teralami seorang wanita, itulah yang kurasakan. Karena setiap insan siapapun itu tentunya bila ujian melanda diri akan  merasa bahwa dirinyalah yang paling menderita dan teraniaya hatinya.
Disaat terpuruk, aku coba melihat sekitar ku, kiri kanan dan atas bawah (sekitarku), Masyaallah masih begitu banyak yang lebih menderita dan teraniaya dari segala permasalahan dan ujian lahir batinnya, kembali pada diriku, ternyata tiada sedikitpun rasa lara dibanding dari mereka.

Aku malu sekali bila tak bersyukur, melihat sebelah kiriku, ada wanita yang begitu rapuh dari penderitaannya lahir batin dari seorang suami yang kejam lahir batin. Tanpa menafkahi lahir batin. Wanita itu hanya mampu diam dan bersabar, dia bukan lemah tapi karena beriman.

Kulihat sebelah kanan ( sekitarku )  seorang wanita dengan penyakit kanker yang menyerangnya, tanpa memilki seorangpun keluarga, anak dan suami, tapi wanita itu tetap sabar dan beriman.

Kulihat dari bawah (sekitarku) seorang anak yang tak beribu dan bapak, harus menghidupi dirinya sendiri dengan banting tulang , kulihat tak pernah ada keluhan dari bibirnya, subhanallah sekecil itu begitu ikhlas dia menerima cobaan yang begitu berat.

Dan akupun mencoba melihat keatas ( sekitarku ),...ternyata  sama ! masih begitu banyak orang-orang yang lebih menderita dan teraniaya, yang tak terhitung oleh jari.

Setelah kulihat dan bercermin ( sekitarku ) ternyata rasa syukur dan sabarku tak sebanding mereka.

Ya Rabb, ampun seribu ampun bila aku lalai dalam bersyukur, kusadari segala sesuatu yang menimpa diri tentunya kekurangan yang ada pada diriku. Dengan kumenyadari, kesabaran menghampiri, ternyata kesabaran ada pada kesadaran diri. Akhirnya kesadaran akan diri kujadikan senjata ampuh untuk menjadi sabar. Ternyata tanpa kesadaran,  sabar tak akan pernah datang pada diri.

Innallahama’ashshoobiriin, Allah beserta orang-orang yang sabar. Jadi untuk apa kita ingkar dengan ayat yang begitu bijak dari-NYA. Besar maupun kecil ujian dan cobaan yang menimpa, disitulah Allah hadir untuk kita, rangkulan dari kasih sayang-NYA jangan kita lepas dengan ketidak sabaran dari segala ujian-NYA, rangkulah kembali ujian dan cobaan-NYA dengan kasih sayang kita dari rasa Syukur dan sabar.
Insyaallah senantiasa Allah akan menganugerah hati yang seindah kilau mutiara, sebuah bijak, lapang dan seluas samudera, menurut istilah Ja
Twa kita akan selalu  legewo dan nrimo 

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

* Hanya sebuah nasehat untuk diriku sendiri, agar hati tetap teguh dengan keimanan kepada-NYA. 

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.