Senin, 20 Desember 2010

0

LIHAT HARAPANKU!

Apa guna bersembunyi
Di balik bayangan sendiri

Bilakah saatnya tiba terbuka
Meski tanpa ucap kata
Walau semua sudah tertera
Namun mengapa masih tetap berpura

Jangan!
Jangan seperti ini
Karena harapan adalah nadiku
Karena harapan membunuh semangatku
Karena harapan menenggelamkan inspirasiku

Lihatlah
Meski aku tak selalu tampak jelas dalam pandanganmu..



0

Catatan Ramadhanku

Ramadhanku..
Maafkan jika diri begitu acuh terhadapmu
Tak bersegera bersiap menyambut kedatanganmu

Ramadhanku..
Diri ini begitu sedih karena tak juga menyambutmu
dengan sejuta semangat
dengan sebanyak-banyak amalan
dengan sebaik-baik ucapan
dengan kebahagiaan mendalam
menjemputmu bulan penuh ampunan..

Ramadhanku..
Janganlah cepat berlalu
Lalu meninggalkan kami dengan tangan hampa
Biarkan ia terus bersama kami
Membersamai setelah syawal mendekat
Ramadhanku..


 

Minggu, 19 Desember 2010

1

Cintaku Yang Hening


"Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan."

Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan "apa kabar…"
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..
Lelah untuk mencari secuil kesempatan menyentuh atau membauinya.

Lelah dan lelah dan lelah..


Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "apakah aku cukup pantas?"
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..


Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.
Namun itu pula yang saya rasakan selama hampir lebih dari sepekan.



Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu"
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik – baik saja"
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.


Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..


Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..

Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..

Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..


Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan
"Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja"


Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.


Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.



Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam

Taken from Renungan n kisah inspiratif 

0

Bersedekahlah,.. Kalian Kaum Wanita..

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah subhanahu wa taala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Quran dan As Sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa taala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Saudariku Muslimah … .

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda :

“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)
Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari
adzabnya.



KUFUR SAMA SUAMI

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah subhanahu wa taala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasai)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah subhanahu wa taala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

KENGERIAN NERAKA

Allah subhanahu wa taala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

Ibnu Abbas radliyallahu anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”

Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah subhanahu wa taala.

Di dalam surat lainnya Allah subhanahu wa taala berfirman : “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” ( Shahihul Jami)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari neraka.

Wahai saudariku Muslimah …
Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa taala berfirman : “Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi saya hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.
(Yusuf Mansur)

0

HARAPAN

Sejak dilahirkan semua orang memiliki harapannya sendiri, bahkan sebuah embrio pun punya harapan Untuk dilahirkan menjadi manusia, setelah lahir bayi sekalipun punya harapan untuk hidup bahagia.

dari kehangatan yang didapatkannya, pengalaman indah yang mengisi kehidupannya, dan perjalanan menuju kedewasaan, tentunya semua manusia memiliki harapan untuk hidup bahagia. Sampai pada saat terakhir menjelang kematianpun seseorang memiliki harapan untuk meninggal dengan bahagia.

 Harapan ada bermacam-macam bentuk… ada harapan yang dapat diterima oleh akal sehat, sampai harapan yang muncul dari hayalan dan fantasi yang tercipta dari pikirannya sendiri.  Ada juga harapan yang kesannya tidak mungkin terjadi tetapi dapat terjadi dan terwujud seperti cerita Cinderllela dan sepatu kaca maupun cerita Putri Salju dengan Tujuh Kurcaci.


Yang sering kita abaikan, dan kurang mendapat perhatian adalah ‘Harapan’ mereka yang sedang sakit parah, atau ‘Harapan’ mereka yang sedang menjelang meninggal. terkadang kita kurang memperhatikan HARAPAN TERAKHIR (last Hope) dari seseorang yang hampir tidak berdaya menghadapi hidupnya dan sedang ‘bingung’ dalam mempersiapkan kehidupan barunya di kelahiran selanjutnya ini.


“Harapan Terakhir” kesannya biasa saja, tetapi kekuatannya luar biasa, sebuah harapan yang tulus baru akan muncul saat menyadari hidupnya tidak akan lama lagi. kadang kedengaran konyol dan lucu mendengar mereka yang hampir koma, memohon untuk makan ice cream, atau menghisap rokok untuk yang terakhir kalinya……. tentunya keluarga tidak akan mengizinkan karena banyak alasan secara medis. tetapi hasil akhirnya kita dapat melihat mereka yang tidak terpenuhi keinginannya biasanya akan semakin sedih dan semakin drop….dan bagi mereka yang dapat memenuhi keinginannya akan terlihat raut wajah sangat bahagia, dan tenang walau kematian pun tidak dapat dihindari tetapi mereka biasanya akan meninggal dengan bahagia.


Dendam, dan kebencian menjadi racun yang sangat berperan disaat-saat menjelang kematian, racun itu dengan cepat menyerang seluruh tubuh dan otak manusia, walau bukan racun sungguhan yang mematikan, tetapi racun ini telah membuat perasaan seseorang berkecamuk luar biasa, segala penyesalan akan datang dan menghantui dirinya, seluruh gambaran kehidupan dan kenangan-kenangan manis dan pahit akan muncul seperti video yang diputar berulang-ulang, dan akan sangat mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuhnya.
maka dari pada itu biasanya keluarga akan berusaha untuk saling memaafkan dari semua kesalahan yang pernah dilakukan.


Biasanya orang yang akan meninggal mengerti benar akan dendam dan benci yang selama ini menghantuinya perlu diselesaikan sebelum ajal menjemput dirinya, maka pihak keluarga bila  mengetahui ada seseorang yang selama ini menjadi beban hidupnya  dapat membantu dnegan mempertemukan mereka tetapi dengan kehendak baik penuh cinta dan pintu maaf yang terbuka lebar.
selesaikanlah semua dendam dan kebencian ini sebelum semuanya terlambat……


Memperoleh pancaran cinta kasih, kedamaian, dan kesejukan jiwa, inilah Harapan terindah yang diinginkan semua mahluk di dunia. Marilah kita pancarkan cinta kasih pada sesama, memberikan pesan kedamaian pada semesta alam, memberikan air kesejukan jiwa bagi mereka yang dahaga. Dan yang terpenting adalah dapat menerima kenyataan yang datang padanya apapun juga. Harapan yang terwujud maupun harapan yang tidak pernah kunjung tiba, semua adalah milik kita yang harus kita syukuri.

Bila harapan itu tidak dapat terwujud tidak perlu patah semangat, dan dapat menerima realitas hidup dengan tetap berjalan pada keindahan, ketenangan, kedamaian dan tetap semangat memunculkan harapan-harapan yang baru..


Berharap bukan berarti menjadi pemimpi, berharap tanpa harus melekati…..
siapa yang senang mewujudkan harapan bagi orang lain, tanpa sadar harapan baginya akan datang mendekat dengan sendirinya.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Kepuasan dan Kesederhanaan

Rasa puas itu relatif bagi setiap orang, ada yang sudah terpuaskan dalam satu sisi masih mencari kepuasan di sini lain. Karena tidak ada satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kepuasan dalam setiap diri manusia.

Ketidakpuasan sesungguhnya akan memacu motivasi seseorang untuk berjuang, dan meningkatkan kadar hidup dan prestasi dirinya. Tetapi bukan berarti ketidakpuasan itu sendiri membelenggu hidup seseorang. Selama seseorang tidak merasa puas dengan keadaannya maka ia akan berusaha untuk memenuhi hasrat keinginannya. Sesungguhnya keinginan itu tidak ada habis-habisnya untuk diikuti dan sangat sulit mengukur tingkat kepuasannya.

“Merasa puas, mudah di sokong, sederhana hidupnya” kesannya adalah mengajarkan seseorang untuk tidak mengejar materi. tetapi kalau ditelaah lebih dalam lagi sesungguhnya bukan demikian.
Ketika seseorang telah dapat menerima apa yang telah dikerjakannya, apa yang telah diusahakannya, dan apa yang telah di raihnya sesungguhnya inilah kepuasan bagi dirinya, tidak perlu merepotkan orang lain, tidak membuat susah orang lain, dan hidupnya pasti akan jauh dari permasalahan, pikirannya tidak terlalu rumit, makannya pun lahap, tidurnya pun nyenyak. inilah kehidupan yang sederhana.
jadi kesederhanaan bukan hanya dilihat dari sekedar materi.

Dengan memiliki materi dan kehidupan yang kecukupan maupun lebih, kita harus dapat mensyukurinya, merasa puas dengan hasil keringat kita sendiri, dengan tidak melekatinya serta dapat berbagi dengan orang lain. Inilah yang disebut dengan kesederhanaan. Memiliki bukan untuk sendiri tetapi memiliki untuk berbagi dengan sesama.

Dengan demikian seseorang sudah sewajarnya mengejar prestasi, harus berkerja keras tanpa harus terbelenggu di dalamnya. Hidup ibarat air yang mengalir, yang dapat mengaliri sawah dan ladang disekitarnya, dari dataran tinggi yang akhirnya mengalir ke samudera luas, menguap menjadi awan dan akan turun sebagai hujan, untuk kembali lagi memberi kehidupan pada semuanya.


Memang sulit mengukur tingkat kepuasan seseorang, tetapi biar bagaimanapun kita membutuhkan rasa penasaran dan rasa keingintahuan serta ketidakpuasan yang positif untuk mendorong kita agar dapat bekerja lebih maksimal lagi. Seperti rakit yang masih kita butuhkan untuk menyeberangi sungai atau lautan. ketika telah sampai pada tujuan, sudah pasti kita tidak membutuhkannya lagi. Tidak perlu membawa rakit itu sepanjang perjalanan anda di daratan (kecuali ada banjir hahhahaha) karena hanya akan membawa penderitaan dan beban yang berkepanjangan. Bila kita melekat pada ‘rakit’ maka kita pasti tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati.

Artinya bila kita telah sampai pada level tertentu merasa puaslah dan berbagilah pada sesama kurangi kemelekatan, terimalah apa yang menjadi milikmu dengan hati yang lapang dan sadarilah itu semua hanya sementara, dengan demikian kita akan bahagia dalam menjalani hidup ini. Sederhana dalam pola pikir, sederhana dalam bertindak, sederhana dalam bertutur kata, sederhana dalam kehidupan adalah orang yang bersahaja.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Sabtu, 18 Desember 2010

0

Memurnikan Hati

Keheningan malam begitu mendera
Rintihan kasih hangat ingin ku cipta

Tiap nada ku lantunkan dengan pesona melodi
Sendiri aku disini, hanya bulanku yg slalu menari
Tanpa ku lihat bintang menempati butiran cahaya menyinari
Malam ini ingin hanya Dia yg mengasihi

Dataran kian mencekam seiring langkah kian melemah
Menelusup sesak dalam hati kian merambah
Aku tersenyum dengan menyembah
Lihat diriku berlalu dengan tunduk tengadah

Ku lihat ujung jalan itu sempit dan semu
Tak kusangka itu bagai lorong pantaiMu
Ku tapaki dg bibir teriris sembilu
Prihal ceritaku terlalu kaku menggebu

Sudahlah wahai duniaku
Jangan dulu kau ganggu aku
Biarkan aku sejenak untuk menguatkan kakiku
Iringan langkah seribu ingin ku menyeru

Selamat datang akhiratku
Bawalah aku pergi bersamamu
Tinggalkan sedih dan juga pilu
Haturan harap ku tadahkan padaMu

Duniaku!
akhiratku!
Bukan aku ingin memilih kalian
Namun ingin ku tegaskan
Aku hanya ingin memadukan

Biarlah akhiratku yg menuntun langkah duniaku…
Duniaku berilah aku kebahagiaan dalam tidur panjangku
Karunia akanMu harapan hidupku
Rizki dariMu pengingat padaMu
Bangunkan aku saat akhirat menjemputku


Ya Allah,,
Tak ada sesal buatku
Kau tiup itu dg berlalu
Hati pilu berganti sendu
Dan akhirnya aku melangkah maju
Dengan kebaikan yg hakiki dariMu

Wahai Kau Maha Pengasih lagi Penyayang
Murnikanlah hatiku!
Kuatkanlah langkahku!
Bimbinglah jiwaku!
Untuk slalu tunduk dan sujud padaMu
  
[oleh Mif d'King]

Jumat, 17 Desember 2010

0

HATI YANG KOSONG DAN JIWA YANG KERUH

" Setiap tarikan nafas yang dihembuskan, di dalamnya ada ketentuan Allah. jangan kosongkan hati dari mengingat Allah, sebab akan dapat memutuskan muraqabah anda dari hadirat-Nya. janganlah keheranan karena terjadinya hal-­hal yang mengeruhkan jiwa, karena itu sudah menjadi sifat dunia selama anda berada di dalamnya.


Di dalam perjalanan hidup anak Adam di permukaan bumi ini, tidaklah seorang hamba terlepas dari problema yang berlaku pula bagi manusia lainnya. Setiap tarikan nafas anak Adam, menjadi pertanda bahwasanya persoalan-persoalan yang sama selalu berulang. Karena segala yang belum terjadi, sudah terjadi dan akan terjadi berjalan di atas rencana Allah jua. Dan semua ketetapan dan rencana Allah berlaku untuk setiap orang, dimana anda berada di dalamnya. Tugas hamba Allah dalam mengikuti rencana-Nya, tidak lain mentaati hukum-Nya, mengikuti takdir-Nya dengan hati rida dan sabar.

Di samping itu berikhtiar penuh waspada dan tawakal. Terus menerus taqarrub kepada Allah dengan mujahadah yang teratur, dan jangan membiarkan hati kita kosong dari zikrullah agar hubungan dengan-Nya selalu hidup serta menempatkan diri benar-benar sebagai hamba yang patuh. Membiarkan hati kosong dari Allah, akan memudahkan setan mendapat peluang menggerogoti keyakinan iman yang sedang tumbuh merekah. Lakukan ibadah salat dengan penuh kesadaran dalam muraqabah, karena itulah jalan menguatkan iman dan mengisi sepenuhya hati kita.
Jangan sampai seorang hamba terpengaruh oleh keajaiban dunia yang hiruk pikuk sehingga jiwa kita tergoda dan keruh, karena memang demikian irama hidup dan langgam dunia. Sudah dimaklumi bahwasanya hidup dunia ini ibarat panggung sandiwara. Apabila seorang hamba memikirkan hidup dunia semata-mata dalam rangka hidup saja, tentu ia akan berkeluh kesah, jiwanya akan terganggu dan hatinya menjadi keruh. Akan tetapi, hamba yang menjadikan hidup dunia ini semata-mata hanya salah satu dari bagian perjalanan yang masih jauh ditempuh, pasti ia tidak akan meratapi hidup ini dengan penuh keluhan tanpa ujung.

Si hamba akan mengembalikan melalui ikhtiar-ikhtiamya, segala sesuatu kepada-Nya. Tidak perlu keluh kesah, tidak perlu hati menjadi keruh, karena segala sesuatu telah diatur oleh Allah Ta’ala sendiri serta menempatkan setiap orang pada bagian dan proporsinya masing-masing. Yang penting dipahami bahwa Allah Ta’ala akan menguji kebenaran iman hambanya, dan tidak membiarkan hamba-Nya jatuh kepada perbuatan yang kotor dan sengsara, selama si hamba masih tetap berada dalam hukum-hukum Allah.

Hidup dunia itu penuh fitnah, karena selama anak Adam berada di dalamnya, berarti selama itu pula sifat tamak anak Adam, tetap menjadi pakaian manusia. Adapun tamak itu akan menumbuhkan fitnah, dan fitnah akan membawa kehancuran. Allah Swt. menjelaskan hal ini dalam AI­-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 35, “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan .sebagai cobaan (fitnah), dan Pada Kami niscaya kamu akan dikembalikan. “

Taken From RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Kamis, 16 Desember 2010

0

Dosa lahir dan dosa batin

Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fisik (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluub). Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati.

Saudaraku,
Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fisik, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fisik itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang shalih. Bila kita secara fisik terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah swt. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang bisa membinasakan semua kebaikan lahir kita?

Ini bukan menyepelekan kemaksiatan fisik dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang.

Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab radhiallahu anhu, "tafaqqahuu qabla an tasuuduu" perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan paham ilmu dan hukum agama seperti yang dipahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafushalih generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafushalih dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktekkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami seluk beluk hukum suatu masalah.

Saudaraku,
Ibnu Mas’ud ra pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika dihadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan, "Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama. Kelak akan datang suatu zaman, banyak
khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama." Karena mengerti mendalam tentang masa
lah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak
untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam
menolak melanjutkan estafeta kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Karena catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu.

Saudaraku,
Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid ra yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang karena perintah khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha,
"Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam." Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum bisa mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara total seluruh amal kepada Allah, selama kita belum bisa menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita bisa menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain.

Saudaraku,
Semoga Allah swt mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita.

Apa yang dilakukan banyak salafushalih, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat surga dan neraka, mereka gemetar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pingsan.

Saudaraku,
Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
0

Bila akhirat menjauhi kita


Akhirat..... Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). 

Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya.
Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. 

Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?
Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat.

Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera.
Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat.

Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tutur kala kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, mcnjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF




0

RENUNGAN DIRI

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah,
dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…." 

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
0

R I S A U

 Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.
“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.
Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”
Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.
Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.
Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.
Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.
Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).
Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.
Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.
Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.
Maka seperti apakah risau kita hari ini?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
1

Untukmu Wahai kaum Adam..

Assalamualaikum..

Maaf kumohon darimu, duhai Adam...
seandainya bait bicara ini bisa menggores parah tangkai hatimu dan membenamkan luka yang dalam...
Telah lama aku mencari kekuatan untukku larungkan getaran di jiwa yang makin mencengkam, segalanya karena rindukan berkibarnya syiar islam dibumi yang kian gersang.

Adam, sukarnya untukku lafadzkan kecewa dihati ini. Bila saban hari ku terpaksa berhadapan dengan kaummu yang sekadar tertunduk malu sedang deretan dosa dan noda melingkari ruangan alam, keji tanpa alasan.
Kenapa Adam? Kau membisu. Sedangkan kekuatan padu ditanganmu. Sekadar membisu, masa terus berlalu.

Adam, tersangat pilu hatiku bila melihat kaummu menghapuskan hijab antara kita, pandanganmu kau tebarkan ke serata ruangan, tiada lagi halangan…
hawa jadi perhatian.
"Bukankah jelas dinyatakan kita punyai batasan tak bisa dirobohkan. Segalanya tuntutan dan kalianlah yang harus tegakkan dalam kedangkalan akal fikiran umat zaman ini!

Adam, bukan niatku untuk membelakangkanmu, malah kutahu kau lebih berkuasa daripadaku
yang cukup lemah dan kerdil ini. Tapi ku tak mampu, Adam…menyimpan lahar yang kian bergelegar ini. Dan jiwaku meronta sayu. Kekuatanku terbatas, Adam!

Suara hatiku tenggelam. Segalanya membeku sehingga peritnya kutahan dalam dakapan duka menanti terbangunnya kegemilangan islam…

Adam, Ku tak mampu lagi menahan tangis. Iba bila mengenangkan sikapmu, ego kau julang, kau biarkan ku merintih dalam sendu menahan pedih. Pernah dan sering kuluapkan. Kau harus bangkit dan cipta perubahan. Kau mampu, Adam!!! Karna bukan lemah yang terbenam dalam dirimu tapi kemauan yang tak kau asah!!! 

Sesekali aku bangga, Adam…
Kau memang insan gemilang, ilmumu tak terbilang tapi kemana hilangnya kewajibanmu yang harus kau jalankan untuk memimpinku ke jalan kebenaran?!

Adam, sekali lagi kumohon pengertianmu, bukan kebahagiaan dzahir yang ku harapkan. Bukan jua kebebasan pergaulan kita yang jadi impian. Hancurkanlah segalanya itu. Kubenar-benar mengharapkan kau bangkit membela kehormatan agama kita. Bentukkan kembali hati-hati yang mengagungkan kebesarannya, laksanakan perintahnya dan seterusnya, biar solehah mengharumi dunia…

Adam, bicara ini harus kuhentikan jua…Namun, kemaafan tetap ku ulur dan mengharapkan penerimaan. Walau ku tahu ada hati yang akan menyimpan dendam, ada jiwa yang bergetar menahan kemarahan, biarlah...aku ridha dan kupasti dengan ketulusan niatku tanpa ada karat mazmumah dan muslihat yang tersimpan…

Bangkitlah Adam!!! Teruskan bina kekuatan…
Bimbinglah kaumku yang merindukan kemantapan iman… 
Bukan sekadar impian…. 
Kebahagiaan dunia yang tak kesudahan… 
Kita bertemu DISANA ….NEGERI KEKAL ABADI.
Insyaallah… 
Sekian….

dari Hawa...

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

0

Untukmu wahai kaum HAWA


Mentari senyum lebar tanda kekuasaan kembali bertakhta. Setelah sekian lama membenarkan sang purnama bersuka-ria memadu rindu dengan sang pungguk. Sang helang berterbangan di ufuk timur, gagah, berani, bebas... terbang tinggi tanpa dinding membataskan, tanpa rintang yang menghalang...

Hawa... Bukan kutewas dengan ribut angin alam yang kencang. Kuibaratkan diriku hilang gagah perkasa di awan. Namun andainya sebelah sayapku kuat tapi sebelah lagi tergeliat.... ah, belum lagi patah, ku tidak mampu membahas n ribut modernisasi dan globalisasi mengikut haluanku....

Hawa....
Andainya hilang ego lelaki, maka musnahlah dunia tanpa kepimpinan. karena ego mencipta karisma dan kepimpinan. Namun tatkala egoku menjadi egoisme, maka di situ aku perlukan coretan. Terbang di langit tanpa batasan, sering ku kebablasan ke angkasa larangan. Kuharapkan teguran dan kritikan serta pesan berpanjangan, agar kutetap terbang di awan, tapi tafakurku sejenak di pepohonan...

Hawa.....
Seandainya kuperlukan mata ketiga yang sentiasa mengintropeksi...
maka begitulah jua dirimu yang tak kurang alpanya. Dunia kini, tiada hiburan tanpa kaummu yang menghiburkan.
Modenisme kini, tiada hiasan tanpa susuk dirimu yang menggiurkan. Ah, memang kaumku mudah mempercayai pada mata. Tapi siapakah yang telah hilang perasaan malu sanggup menjadikan dirinya sebagai hidangan enak buat mata, tapi racun pada jiwa?? Seandainya benar kaummu pemalu, mengapa tidak dibalut tubuhnya dengan helaian sutera yang indah, yang telah diharamkan untukku mengenakannya? Seandainya malu itu lebih pada kaummu, mengapa tidak ramai kaumku yang kelihatan memakan pakaian menampakkan bentuk badan seperti yang dipakai oleh kaummu di khalayak banyak....?

Hawa......
Terkadang, tak kurang dikalanganmu yang amat tinggi malunya. Indah etikanya di khayalak. Sutera kausarung menghijab keindahanmu dari mata keranjang kaumku. Tatkala itu, kamu bangga dengan sifat itu. Namun di wajahmu terhijab, hatimu bertelanjang tanpa mahmudah... Kamu merendahkan orang lain, di hadapan orang lain. Kamu tidak akan puas seandainya perihal orang lain tidak kamu bicarakan.....
Ah, apakah mengumpat dan menfitnah orang satu santapan yang sedap? Bagaikan memakan daging saudara sendiri, namun sering dibayangi dengan bahasa indah, sekadar menjadi iktibar diri...
walhasill hati kecilmu tidak kan puas seandainya aib orang tidak dibicarakan.....
kalau tidak karena tubuh, karena lidah pun hancur masyarakatku...

Hawa.....
ku datang bukan untuk mencakar cengkraman kuku tajam di kaki...
bukan juga mematukkan paruh berbisa yang menyambar....
Tapi supaya direnungkan bersama. Bahwa antara kita perlu sentiasa perbaiki diri. Aku akur dengan nasihat dan peringatanmu, di kala itu akurlah dengan peringatanku padamu....

Hawa... karena kau adalah ibu yang mengandung dan melahirkan... karena dalam asuhanmu, aku dibesarkan... karena kau adalah teman hidup tempat emosiku berbicara karena kau adalah taman nafsuku yang bergelora karena kau adalah asset masyarakat yang mengundang ujian karena kau ibarat hiasan indah bagai intan berlian....

Adam ;)  
Wassalamualaikum

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Please put your comment

Senin, 20 Desember 2010

LIHAT HARAPANKU!

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 11.04 0 komentar
Apa guna bersembunyi
Di balik bayangan sendiri

Bilakah saatnya tiba terbuka
Meski tanpa ucap kata
Walau semua sudah tertera
Namun mengapa masih tetap berpura

Jangan!
Jangan seperti ini
Karena harapan adalah nadiku
Karena harapan membunuh semangatku
Karena harapan menenggelamkan inspirasiku

Lihatlah
Meski aku tak selalu tampak jelas dalam pandanganmu..



Catatan Ramadhanku

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 10.38 0 komentar
Ramadhanku..
Maafkan jika diri begitu acuh terhadapmu
Tak bersegera bersiap menyambut kedatanganmu

Ramadhanku..
Diri ini begitu sedih karena tak juga menyambutmu
dengan sejuta semangat
dengan sebanyak-banyak amalan
dengan sebaik-baik ucapan
dengan kebahagiaan mendalam
menjemputmu bulan penuh ampunan..

Ramadhanku..
Janganlah cepat berlalu
Lalu meninggalkan kami dengan tangan hampa
Biarkan ia terus bersama kami
Membersamai setelah syawal mendekat
Ramadhanku..


 

Minggu, 19 Desember 2010

Cintaku Yang Hening

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 16.55 1 komentar

"Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan."

Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan "apa kabar…"
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..
Lelah untuk mencari secuil kesempatan menyentuh atau membauinya.

Lelah dan lelah dan lelah..


Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "apakah aku cukup pantas?"
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..


Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.
Namun itu pula yang saya rasakan selama hampir lebih dari sepekan.



Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu"
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik – baik saja"
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.


Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..


Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..

Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..

Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..


Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan
"Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja"


Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.


Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.



Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam

Taken from Renungan n kisah inspiratif 

Bersedekahlah,.. Kalian Kaum Wanita..

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 16.44 0 komentar
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah subhanahu wa taala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Quran dan As Sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa taala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Saudariku Muslimah … .

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda :

“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)
Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari
adzabnya.



KUFUR SAMA SUAMI

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah subhanahu wa taala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasai)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah subhanahu wa taala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

KENGERIAN NERAKA

Allah subhanahu wa taala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

Ibnu Abbas radliyallahu anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”

Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah subhanahu wa taala.

Di dalam surat lainnya Allah subhanahu wa taala berfirman : “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” ( Shahihul Jami)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari neraka.

Wahai saudariku Muslimah …
Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa taala berfirman : “Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi saya hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.
(Yusuf Mansur)

HARAPAN

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 16.27 0 komentar
Sejak dilahirkan semua orang memiliki harapannya sendiri, bahkan sebuah embrio pun punya harapan Untuk dilahirkan menjadi manusia, setelah lahir bayi sekalipun punya harapan untuk hidup bahagia.

dari kehangatan yang didapatkannya, pengalaman indah yang mengisi kehidupannya, dan perjalanan menuju kedewasaan, tentunya semua manusia memiliki harapan untuk hidup bahagia. Sampai pada saat terakhir menjelang kematianpun seseorang memiliki harapan untuk meninggal dengan bahagia.

 Harapan ada bermacam-macam bentuk… ada harapan yang dapat diterima oleh akal sehat, sampai harapan yang muncul dari hayalan dan fantasi yang tercipta dari pikirannya sendiri.  Ada juga harapan yang kesannya tidak mungkin terjadi tetapi dapat terjadi dan terwujud seperti cerita Cinderllela dan sepatu kaca maupun cerita Putri Salju dengan Tujuh Kurcaci.


Yang sering kita abaikan, dan kurang mendapat perhatian adalah ‘Harapan’ mereka yang sedang sakit parah, atau ‘Harapan’ mereka yang sedang menjelang meninggal. terkadang kita kurang memperhatikan HARAPAN TERAKHIR (last Hope) dari seseorang yang hampir tidak berdaya menghadapi hidupnya dan sedang ‘bingung’ dalam mempersiapkan kehidupan barunya di kelahiran selanjutnya ini.


“Harapan Terakhir” kesannya biasa saja, tetapi kekuatannya luar biasa, sebuah harapan yang tulus baru akan muncul saat menyadari hidupnya tidak akan lama lagi. kadang kedengaran konyol dan lucu mendengar mereka yang hampir koma, memohon untuk makan ice cream, atau menghisap rokok untuk yang terakhir kalinya……. tentunya keluarga tidak akan mengizinkan karena banyak alasan secara medis. tetapi hasil akhirnya kita dapat melihat mereka yang tidak terpenuhi keinginannya biasanya akan semakin sedih dan semakin drop….dan bagi mereka yang dapat memenuhi keinginannya akan terlihat raut wajah sangat bahagia, dan tenang walau kematian pun tidak dapat dihindari tetapi mereka biasanya akan meninggal dengan bahagia.


Dendam, dan kebencian menjadi racun yang sangat berperan disaat-saat menjelang kematian, racun itu dengan cepat menyerang seluruh tubuh dan otak manusia, walau bukan racun sungguhan yang mematikan, tetapi racun ini telah membuat perasaan seseorang berkecamuk luar biasa, segala penyesalan akan datang dan menghantui dirinya, seluruh gambaran kehidupan dan kenangan-kenangan manis dan pahit akan muncul seperti video yang diputar berulang-ulang, dan akan sangat mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuhnya.
maka dari pada itu biasanya keluarga akan berusaha untuk saling memaafkan dari semua kesalahan yang pernah dilakukan.


Biasanya orang yang akan meninggal mengerti benar akan dendam dan benci yang selama ini menghantuinya perlu diselesaikan sebelum ajal menjemput dirinya, maka pihak keluarga bila  mengetahui ada seseorang yang selama ini menjadi beban hidupnya  dapat membantu dnegan mempertemukan mereka tetapi dengan kehendak baik penuh cinta dan pintu maaf yang terbuka lebar.
selesaikanlah semua dendam dan kebencian ini sebelum semuanya terlambat……


Memperoleh pancaran cinta kasih, kedamaian, dan kesejukan jiwa, inilah Harapan terindah yang diinginkan semua mahluk di dunia. Marilah kita pancarkan cinta kasih pada sesama, memberikan pesan kedamaian pada semesta alam, memberikan air kesejukan jiwa bagi mereka yang dahaga. Dan yang terpenting adalah dapat menerima kenyataan yang datang padanya apapun juga. Harapan yang terwujud maupun harapan yang tidak pernah kunjung tiba, semua adalah milik kita yang harus kita syukuri.

Bila harapan itu tidak dapat terwujud tidak perlu patah semangat, dan dapat menerima realitas hidup dengan tetap berjalan pada keindahan, ketenangan, kedamaian dan tetap semangat memunculkan harapan-harapan yang baru..


Berharap bukan berarti menjadi pemimpi, berharap tanpa harus melekati…..
siapa yang senang mewujudkan harapan bagi orang lain, tanpa sadar harapan baginya akan datang mendekat dengan sendirinya.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Kepuasan dan Kesederhanaan

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 16.15 0 komentar
Rasa puas itu relatif bagi setiap orang, ada yang sudah terpuaskan dalam satu sisi masih mencari kepuasan di sini lain. Karena tidak ada satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kepuasan dalam setiap diri manusia.

Ketidakpuasan sesungguhnya akan memacu motivasi seseorang untuk berjuang, dan meningkatkan kadar hidup dan prestasi dirinya. Tetapi bukan berarti ketidakpuasan itu sendiri membelenggu hidup seseorang. Selama seseorang tidak merasa puas dengan keadaannya maka ia akan berusaha untuk memenuhi hasrat keinginannya. Sesungguhnya keinginan itu tidak ada habis-habisnya untuk diikuti dan sangat sulit mengukur tingkat kepuasannya.

“Merasa puas, mudah di sokong, sederhana hidupnya” kesannya adalah mengajarkan seseorang untuk tidak mengejar materi. tetapi kalau ditelaah lebih dalam lagi sesungguhnya bukan demikian.
Ketika seseorang telah dapat menerima apa yang telah dikerjakannya, apa yang telah diusahakannya, dan apa yang telah di raihnya sesungguhnya inilah kepuasan bagi dirinya, tidak perlu merepotkan orang lain, tidak membuat susah orang lain, dan hidupnya pasti akan jauh dari permasalahan, pikirannya tidak terlalu rumit, makannya pun lahap, tidurnya pun nyenyak. inilah kehidupan yang sederhana.
jadi kesederhanaan bukan hanya dilihat dari sekedar materi.

Dengan memiliki materi dan kehidupan yang kecukupan maupun lebih, kita harus dapat mensyukurinya, merasa puas dengan hasil keringat kita sendiri, dengan tidak melekatinya serta dapat berbagi dengan orang lain. Inilah yang disebut dengan kesederhanaan. Memiliki bukan untuk sendiri tetapi memiliki untuk berbagi dengan sesama.

Dengan demikian seseorang sudah sewajarnya mengejar prestasi, harus berkerja keras tanpa harus terbelenggu di dalamnya. Hidup ibarat air yang mengalir, yang dapat mengaliri sawah dan ladang disekitarnya, dari dataran tinggi yang akhirnya mengalir ke samudera luas, menguap menjadi awan dan akan turun sebagai hujan, untuk kembali lagi memberi kehidupan pada semuanya.


Memang sulit mengukur tingkat kepuasan seseorang, tetapi biar bagaimanapun kita membutuhkan rasa penasaran dan rasa keingintahuan serta ketidakpuasan yang positif untuk mendorong kita agar dapat bekerja lebih maksimal lagi. Seperti rakit yang masih kita butuhkan untuk menyeberangi sungai atau lautan. ketika telah sampai pada tujuan, sudah pasti kita tidak membutuhkannya lagi. Tidak perlu membawa rakit itu sepanjang perjalanan anda di daratan (kecuali ada banjir hahhahaha) karena hanya akan membawa penderitaan dan beban yang berkepanjangan. Bila kita melekat pada ‘rakit’ maka kita pasti tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati.

Artinya bila kita telah sampai pada level tertentu merasa puaslah dan berbagilah pada sesama kurangi kemelekatan, terimalah apa yang menjadi milikmu dengan hati yang lapang dan sadarilah itu semua hanya sementara, dengan demikian kita akan bahagia dalam menjalani hidup ini. Sederhana dalam pola pikir, sederhana dalam bertindak, sederhana dalam bertutur kata, sederhana dalam kehidupan adalah orang yang bersahaja.

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Sabtu, 18 Desember 2010

Memurnikan Hati

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 15.12 0 komentar
Keheningan malam begitu mendera
Rintihan kasih hangat ingin ku cipta

Tiap nada ku lantunkan dengan pesona melodi
Sendiri aku disini, hanya bulanku yg slalu menari
Tanpa ku lihat bintang menempati butiran cahaya menyinari
Malam ini ingin hanya Dia yg mengasihi

Dataran kian mencekam seiring langkah kian melemah
Menelusup sesak dalam hati kian merambah
Aku tersenyum dengan menyembah
Lihat diriku berlalu dengan tunduk tengadah

Ku lihat ujung jalan itu sempit dan semu
Tak kusangka itu bagai lorong pantaiMu
Ku tapaki dg bibir teriris sembilu
Prihal ceritaku terlalu kaku menggebu

Sudahlah wahai duniaku
Jangan dulu kau ganggu aku
Biarkan aku sejenak untuk menguatkan kakiku
Iringan langkah seribu ingin ku menyeru

Selamat datang akhiratku
Bawalah aku pergi bersamamu
Tinggalkan sedih dan juga pilu
Haturan harap ku tadahkan padaMu

Duniaku!
akhiratku!
Bukan aku ingin memilih kalian
Namun ingin ku tegaskan
Aku hanya ingin memadukan

Biarlah akhiratku yg menuntun langkah duniaku…
Duniaku berilah aku kebahagiaan dalam tidur panjangku
Karunia akanMu harapan hidupku
Rizki dariMu pengingat padaMu
Bangunkan aku saat akhirat menjemputku


Ya Allah,,
Tak ada sesal buatku
Kau tiup itu dg berlalu
Hati pilu berganti sendu
Dan akhirnya aku melangkah maju
Dengan kebaikan yg hakiki dariMu

Wahai Kau Maha Pengasih lagi Penyayang
Murnikanlah hatiku!
Kuatkanlah langkahku!
Bimbinglah jiwaku!
Untuk slalu tunduk dan sujud padaMu
  
[oleh Mif d'King]

Jumat, 17 Desember 2010

HATI YANG KOSONG DAN JIWA YANG KERUH

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 16.27 0 komentar
" Setiap tarikan nafas yang dihembuskan, di dalamnya ada ketentuan Allah. jangan kosongkan hati dari mengingat Allah, sebab akan dapat memutuskan muraqabah anda dari hadirat-Nya. janganlah keheranan karena terjadinya hal-­hal yang mengeruhkan jiwa, karena itu sudah menjadi sifat dunia selama anda berada di dalamnya.


Di dalam perjalanan hidup anak Adam di permukaan bumi ini, tidaklah seorang hamba terlepas dari problema yang berlaku pula bagi manusia lainnya. Setiap tarikan nafas anak Adam, menjadi pertanda bahwasanya persoalan-persoalan yang sama selalu berulang. Karena segala yang belum terjadi, sudah terjadi dan akan terjadi berjalan di atas rencana Allah jua. Dan semua ketetapan dan rencana Allah berlaku untuk setiap orang, dimana anda berada di dalamnya. Tugas hamba Allah dalam mengikuti rencana-Nya, tidak lain mentaati hukum-Nya, mengikuti takdir-Nya dengan hati rida dan sabar.

Di samping itu berikhtiar penuh waspada dan tawakal. Terus menerus taqarrub kepada Allah dengan mujahadah yang teratur, dan jangan membiarkan hati kita kosong dari zikrullah agar hubungan dengan-Nya selalu hidup serta menempatkan diri benar-benar sebagai hamba yang patuh. Membiarkan hati kosong dari Allah, akan memudahkan setan mendapat peluang menggerogoti keyakinan iman yang sedang tumbuh merekah. Lakukan ibadah salat dengan penuh kesadaran dalam muraqabah, karena itulah jalan menguatkan iman dan mengisi sepenuhya hati kita.
Jangan sampai seorang hamba terpengaruh oleh keajaiban dunia yang hiruk pikuk sehingga jiwa kita tergoda dan keruh, karena memang demikian irama hidup dan langgam dunia. Sudah dimaklumi bahwasanya hidup dunia ini ibarat panggung sandiwara. Apabila seorang hamba memikirkan hidup dunia semata-mata dalam rangka hidup saja, tentu ia akan berkeluh kesah, jiwanya akan terganggu dan hatinya menjadi keruh. Akan tetapi, hamba yang menjadikan hidup dunia ini semata-mata hanya salah satu dari bagian perjalanan yang masih jauh ditempuh, pasti ia tidak akan meratapi hidup ini dengan penuh keluhan tanpa ujung.

Si hamba akan mengembalikan melalui ikhtiar-ikhtiamya, segala sesuatu kepada-Nya. Tidak perlu keluh kesah, tidak perlu hati menjadi keruh, karena segala sesuatu telah diatur oleh Allah Ta’ala sendiri serta menempatkan setiap orang pada bagian dan proporsinya masing-masing. Yang penting dipahami bahwa Allah Ta’ala akan menguji kebenaran iman hambanya, dan tidak membiarkan hamba-Nya jatuh kepada perbuatan yang kotor dan sengsara, selama si hamba masih tetap berada dalam hukum-hukum Allah.

Hidup dunia itu penuh fitnah, karena selama anak Adam berada di dalamnya, berarti selama itu pula sifat tamak anak Adam, tetap menjadi pakaian manusia. Adapun tamak itu akan menumbuhkan fitnah, dan fitnah akan membawa kehancuran. Allah Swt. menjelaskan hal ini dalam AI­-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 35, “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan .sebagai cobaan (fitnah), dan Pada Kami niscaya kamu akan dikembalikan. “

Taken From RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Kamis, 16 Desember 2010

Dosa lahir dan dosa batin

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.35 0 komentar
Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fisik (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluub). Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati.

Saudaraku,
Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fisik, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fisik itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang shalih. Bila kita secara fisik terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah swt. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang bisa membinasakan semua kebaikan lahir kita?

Ini bukan menyepelekan kemaksiatan fisik dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang.

Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab radhiallahu anhu, "tafaqqahuu qabla an tasuuduu" perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan paham ilmu dan hukum agama seperti yang dipahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafushalih generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafushalih dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktekkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami seluk beluk hukum suatu masalah.

Saudaraku,
Ibnu Mas’ud ra pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika dihadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan, "Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama. Kelak akan datang suatu zaman, banyak
khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama." Karena mengerti mendalam tentang masa
lah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak
untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam
menolak melanjutkan estafeta kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Karena catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu.

Saudaraku,
Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid ra yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang karena perintah khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha,
"Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam." Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum bisa mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara total seluruh amal kepada Allah, selama kita belum bisa menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita bisa menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain.

Saudaraku,
Semoga Allah swt mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita.

Apa yang dilakukan banyak salafushalih, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat surga dan neraka, mereka gemetar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pingsan.

Saudaraku,
Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Bila akhirat menjauhi kita

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.30 0 komentar

Akhirat..... Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). 

Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya.
Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. 

Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?
Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat.

Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera.
Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat.

Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tutur kala kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, mcnjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF




RENUNGAN DIRI

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.24 0 komentar
Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah,
dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…." 

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

R I S A U

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.19 0 komentar
 Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.
“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.
Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”
Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.
Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.
Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.
Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.
Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).
Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.
Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.
Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.
Maka seperti apakah risau kita hari ini?

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Untukmu Wahai kaum Adam..

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.10 1 komentar
Assalamualaikum..

Maaf kumohon darimu, duhai Adam...
seandainya bait bicara ini bisa menggores parah tangkai hatimu dan membenamkan luka yang dalam...
Telah lama aku mencari kekuatan untukku larungkan getaran di jiwa yang makin mencengkam, segalanya karena rindukan berkibarnya syiar islam dibumi yang kian gersang.

Adam, sukarnya untukku lafadzkan kecewa dihati ini. Bila saban hari ku terpaksa berhadapan dengan kaummu yang sekadar tertunduk malu sedang deretan dosa dan noda melingkari ruangan alam, keji tanpa alasan.
Kenapa Adam? Kau membisu. Sedangkan kekuatan padu ditanganmu. Sekadar membisu, masa terus berlalu.

Adam, tersangat pilu hatiku bila melihat kaummu menghapuskan hijab antara kita, pandanganmu kau tebarkan ke serata ruangan, tiada lagi halangan…
hawa jadi perhatian.
"Bukankah jelas dinyatakan kita punyai batasan tak bisa dirobohkan. Segalanya tuntutan dan kalianlah yang harus tegakkan dalam kedangkalan akal fikiran umat zaman ini!

Adam, bukan niatku untuk membelakangkanmu, malah kutahu kau lebih berkuasa daripadaku
yang cukup lemah dan kerdil ini. Tapi ku tak mampu, Adam…menyimpan lahar yang kian bergelegar ini. Dan jiwaku meronta sayu. Kekuatanku terbatas, Adam!

Suara hatiku tenggelam. Segalanya membeku sehingga peritnya kutahan dalam dakapan duka menanti terbangunnya kegemilangan islam…

Adam, Ku tak mampu lagi menahan tangis. Iba bila mengenangkan sikapmu, ego kau julang, kau biarkan ku merintih dalam sendu menahan pedih. Pernah dan sering kuluapkan. Kau harus bangkit dan cipta perubahan. Kau mampu, Adam!!! Karna bukan lemah yang terbenam dalam dirimu tapi kemauan yang tak kau asah!!! 

Sesekali aku bangga, Adam…
Kau memang insan gemilang, ilmumu tak terbilang tapi kemana hilangnya kewajibanmu yang harus kau jalankan untuk memimpinku ke jalan kebenaran?!

Adam, sekali lagi kumohon pengertianmu, bukan kebahagiaan dzahir yang ku harapkan. Bukan jua kebebasan pergaulan kita yang jadi impian. Hancurkanlah segalanya itu. Kubenar-benar mengharapkan kau bangkit membela kehormatan agama kita. Bentukkan kembali hati-hati yang mengagungkan kebesarannya, laksanakan perintahnya dan seterusnya, biar solehah mengharumi dunia…

Adam, bicara ini harus kuhentikan jua…Namun, kemaafan tetap ku ulur dan mengharapkan penerimaan. Walau ku tahu ada hati yang akan menyimpan dendam, ada jiwa yang bergetar menahan kemarahan, biarlah...aku ridha dan kupasti dengan ketulusan niatku tanpa ada karat mazmumah dan muslihat yang tersimpan…

Bangkitlah Adam!!! Teruskan bina kekuatan…
Bimbinglah kaumku yang merindukan kemantapan iman… 
Bukan sekadar impian…. 
Kebahagiaan dunia yang tak kesudahan… 
Kita bertemu DISANA ….NEGERI KEKAL ABADI.
Insyaallah… 
Sekian….

dari Hawa...

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Untukmu wahai kaum HAWA

Diposting oleh Ayu Utami Putri di 09.04 0 komentar

Mentari senyum lebar tanda kekuasaan kembali bertakhta. Setelah sekian lama membenarkan sang purnama bersuka-ria memadu rindu dengan sang pungguk. Sang helang berterbangan di ufuk timur, gagah, berani, bebas... terbang tinggi tanpa dinding membataskan, tanpa rintang yang menghalang...

Hawa... Bukan kutewas dengan ribut angin alam yang kencang. Kuibaratkan diriku hilang gagah perkasa di awan. Namun andainya sebelah sayapku kuat tapi sebelah lagi tergeliat.... ah, belum lagi patah, ku tidak mampu membahas n ribut modernisasi dan globalisasi mengikut haluanku....

Hawa....
Andainya hilang ego lelaki, maka musnahlah dunia tanpa kepimpinan. karena ego mencipta karisma dan kepimpinan. Namun tatkala egoku menjadi egoisme, maka di situ aku perlukan coretan. Terbang di langit tanpa batasan, sering ku kebablasan ke angkasa larangan. Kuharapkan teguran dan kritikan serta pesan berpanjangan, agar kutetap terbang di awan, tapi tafakurku sejenak di pepohonan...

Hawa.....
Seandainya kuperlukan mata ketiga yang sentiasa mengintropeksi...
maka begitulah jua dirimu yang tak kurang alpanya. Dunia kini, tiada hiburan tanpa kaummu yang menghiburkan.
Modenisme kini, tiada hiasan tanpa susuk dirimu yang menggiurkan. Ah, memang kaumku mudah mempercayai pada mata. Tapi siapakah yang telah hilang perasaan malu sanggup menjadikan dirinya sebagai hidangan enak buat mata, tapi racun pada jiwa?? Seandainya benar kaummu pemalu, mengapa tidak dibalut tubuhnya dengan helaian sutera yang indah, yang telah diharamkan untukku mengenakannya? Seandainya malu itu lebih pada kaummu, mengapa tidak ramai kaumku yang kelihatan memakan pakaian menampakkan bentuk badan seperti yang dipakai oleh kaummu di khalayak banyak....?

Hawa......
Terkadang, tak kurang dikalanganmu yang amat tinggi malunya. Indah etikanya di khayalak. Sutera kausarung menghijab keindahanmu dari mata keranjang kaumku. Tatkala itu, kamu bangga dengan sifat itu. Namun di wajahmu terhijab, hatimu bertelanjang tanpa mahmudah... Kamu merendahkan orang lain, di hadapan orang lain. Kamu tidak akan puas seandainya perihal orang lain tidak kamu bicarakan.....
Ah, apakah mengumpat dan menfitnah orang satu santapan yang sedap? Bagaikan memakan daging saudara sendiri, namun sering dibayangi dengan bahasa indah, sekadar menjadi iktibar diri...
walhasill hati kecilmu tidak kan puas seandainya aib orang tidak dibicarakan.....
kalau tidak karena tubuh, karena lidah pun hancur masyarakatku...

Hawa.....
ku datang bukan untuk mencakar cengkraman kuku tajam di kaki...
bukan juga mematukkan paruh berbisa yang menyambar....
Tapi supaya direnungkan bersama. Bahwa antara kita perlu sentiasa perbaiki diri. Aku akur dengan nasihat dan peringatanmu, di kala itu akurlah dengan peringatanku padamu....

Hawa... karena kau adalah ibu yang mengandung dan melahirkan... karena dalam asuhanmu, aku dibesarkan... karena kau adalah teman hidup tempat emosiku berbicara karena kau adalah taman nafsuku yang bergelora karena kau adalah asset masyarakat yang mengundang ujian karena kau ibarat hiasan indah bagai intan berlian....

Adam ;)  
Wassalamualaikum

Taken from RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.